SAMARINDA, JURNALPERISTIWA.NET – Sound artis independen asal Samarinda, Kalimantan Timur, Theo Nugraha, mencatatkan torehan baru di kancah musik ekstrem internasional. Karya Theo resmi dirilis dalam album fisik internasional bersama sejumlah nama besar dari Amerika Serikat, Jepang, hingga Brasil.

Album bertajuk “Prosthetic Reality” tersebut dirilis secara global melalui label asal Zaragoza, Spanyol, Drama Recorder. Rilisan ini hadir dalam format kolektor yang sangat terbatas, yakni 100 kopi piringan hitam 12 inci 180 gram dengan format multi-colored marble vinyl serta 50 kopi kaset pita analog handmade C-40 Ferro.

Salah satu catatan penting dari rilisan tersebut adalah keterlibatan Iggor Cavalera, maestro perkusi dunia yang dikenal sebagai mantan drummer sekaligus pendiri band metal legendaris asal Brasil, Sepultura.

Theo menyebut kolaborasi tersebut menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya dalam perjalanan karier musik global Iggor Cavalera, sang musisi merilis album fisik secara resmi bersama seorang seniman bunyi asal Indonesia.

Album “Prosthetic Reality” mempertemukan empat nama atau proyek musik ekstrem dari empat negara. Sisi A1 diisi Black Leather Jesus dari Amerika Serikat melalui karya “Manic Men” berdurasi 9 menit 46 detik.

Sementara sisi A2 menghadirkan Incapacitants dari Jepang dengan lagu “Release of Demon Rice” berdurasi 9 menit 57 detik. Pada sisi B1, Iggor Cavalera menyuguhkan karya “Present to be Absent” berdurasi 10 menit 53 detik yang direkam di London pada Februari 2026.

Adapun sisi B2 diisi kolaborasi Theo Nugraha bersama Savage Doctrine dari Samarinda dan Spanyol melalui karya “Distortion Storm” berdurasi 8 menit.

Dalam karya tersebut, Theo menggarap electronic dan field recording. Sementara proses electronic dan layered sound mix, mixing, serta mastering dikerjakan bersama Savage Doctrine. Karya tersebut dikomposisi dan direkam pada 2026.

Proyek internasional ini diproduseri langsung oleh Theo Nugraha bersama Antonio Drama. Theo juga terlibat dalam perancangan visual sampul depan album.

Rilisan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana musisi dari daerah dapat menembus jaringan musik internasional melalui jalur independen dan pendekatan Do It Yourself (DIY).

Berbasis di Samarinda, Theo membangun jejaring musiknya tanpa harus bergantung pada jalur industri musik arus utama. Karyanya kemudian terhubung dengan jaringan musik ekstrem global hingga mempertemukannya dengan sejumlah nama yang telah memiliki reputasi internasional.

Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis tidak selalu menjadi penghalang bagi seniman daerah untuk berkiprah di tingkat global.

Dari Samarinda, Theo Nugraha kini menempatkan karya musik eksperimental Indonesia dalam satu rilisan fisik bersama musisi ekstrem dari Amerika Serikat, Jepang, Brasil, dan Spanyol. (Red)

“Samarinda berada dalam frekuensi global,” menjadi gambaran atas capaian Theo dalam membawa karya seni bunyi dari Kalimantan ke jaringan musik ekstrem dunia.