BEKASI, JURNALPERISTIWA.NET – Cuaca panas dan kondisi kemarau yang melanda Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, memicu peningkatan signifikan kasus kebakaran. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 83 kejadian kebakaran sepanjang Juli 2026.
Kepala Disdamkarmat Kabupaten Bekasi, Adeng Hudaya, mengatakan tren kebakaran meningkat seiring kondisi cuaca yang semakin panas. Jika dalam kondisi normal hanya terjadi sekitar tiga kejadian kebakaran dalam sepekan, jumlah tersebut meningkat drastis selama musim kemarau.
“Trennya naik terus. Biasanya seminggu cuma paling tiga kali (kebakaran). Nah cuaca kemarau ini memicu bertambahnya jumlah kejadian. Sebulan Juli kita kemarin ada 83 kejadian kebakaran,” kata Adeng saat dikonfirmasi, Senin (10/8/2026).
Menurut Adeng, kebakaran selama musim kemarau didominasi lahan kosong, terutama ilalang dan rumput liar yang mengering. Kondisi tersebut membuat lahan sangat mudah terbakar, bahkan akibat kelalaian kecil seperti membuang puntung rokok sembarangan.
“Yang ilalang khususnya kebakaran ilalang. Yang mungkin sudah tinggi enggak dipotong, yang jauh daripada permukiman. Kan juga itu asapnya mengganggu. Itu yang utama,” ujarnya.
Disdamkarmat mengingatkan potensi kebakaran lahan semakin tinggi ketika suhu udara meningkat. Puntung rokok yang masih menyala dan dibuang ke area rumput kering dapat menjadi sumber api yang kemudian membesar dan menjalar.
Meski sebagian besar kebakaran bermula dari lahan kosong, petugas kini mewaspadai potensi api merembet ke permukiman. Adeng menyebut sejumlah kejadian sudah menunjukkan api mulai menjalar hingga mendekati bangunan warga.
“Itu yang kita khawatirkan, merembet sampai ke rumah. Kemarin ada di Tarumajaya, di Babelan,” katanya.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran selama musim kemarau, Disdamkarmat Kabupaten Bekasi telah menyebarkan surat imbauan kepada sejumlah pihak. Imbauan tersebut ditujukan kepada pengelola kawasan permukiman, kawasan industri, pemerintah kecamatan dan desa, hingga masyarakat.
Sejumlah kawasan seperti Grand Wisata dan Lippo juga menjadi perhatian karena terdapat kejadian kebakaran lahan kosong. Disdamkarmat meminta pengelola kawasan dan masyarakat rutin membersihkan ilalang serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran.
“Karena sekarang dengan kondisi panas gini, puntung rokok juga berpotensi kebakar. Makanya kita tetap standby, cuma kita mohon yang di sana lebih antisipasi, warganya, lalu Pak Camat, Kepala Desa, pihak kawasan, kepolisian, sama-sama menjaga,” tutur Adeng.
Di tengah peningkatan kasus kebakaran, Disdamkarmat Kabupaten Bekasi juga menghadapi keterbatasan sumber daya. Saat ini, terdapat 220 personel, 17 armada pemadam kebakaran, dan sembilan posko yang melayani wilayah Kabupaten Bekasi.
Jumlah tersebut dinilai belum ideal untuk menjangkau seluruh wilayah Kabupaten Bekasi yang memiliki 23 kecamatan.
Adeng menyebut berdasarkan kajian Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB), kebutuhan personel ideal mencapai sekitar 500 orang.
“Saat ini personel ada 220. Kajian kita dari KemenPAN idealnya dengan 23 kecamatan ada 500 personel. Kalau unit ada 17 armada dan 9 posko,” jelasnya.
Untuk armada, Disdamkarmat menilai idealnya setiap kecamatan memiliki minimal satu unit mobil pemadam. Dengan demikian, respons terhadap kebakaran di wilayah yang jauh dari posko dapat dilakukan lebih cepat. “Untuk armada, idealnya di Kabupaten Bekasi satu kecamatan satu armada,” pungkas Adeng.
Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan menjadi semakin penting. Disdamkarmat meminta masyarakat tidak membakar sampah atau lahan sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area kering, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar kebakaran dapat ditangani sebelum merembat ke permukiman warga. (Put)
