Bekasi, Jurnalperistiwa.net – Warga Kampung Tegal Danas, Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, memprotes polusi debu yang diduga berasal dari aktivitas truk molen pengangkut beton cor. Keluhan yang telah berlangsung bertahun-tahun itu dinilai semakin parah saat musim kemarau sehingga mengganggu kesehatan, aktivitas, hingga keselamatan pengguna jalan. Sebagai bentuk protes, warga memasang spanduk bertuliskan “Tegal Danas Darurat Debu” di tepi jalan menuju Kawasan Industri GIIC Deltamas dan Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bekasi. Melalui aksi tersebut, warga mendesak pemerintah dan pihak perusahaan segera mengambil langkah untuk mengatasi pencemaran debu yang dinilai semakin meresahkan.


Salah seorang warga, Yohana (39), mengatakan debu diduga berasal dari material beton yang tercecer dari truk molen. Material tersebut kemudian mengering di badan jalan dan hancur saat terlindas kendaraan sehingga beterbangan ke permukiman warga.
“Kondisi kayak gini udah lama, Bang. Bahkan waktu dulu habis diaspal tahun 2019 itu bersihnya cuma sebulanan. Kalau di perempatan Tegal Danas mungkin ada yang nyiram katanya, tetapi kalau di sini ya tidak ada,” kata Yohana Rabu (29/7/2026).


Menurutnya, polusi debu tidak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Debu disebut kerap memicu batuk dan gangguan pernapasan, sekaligus merugikan para pedagang karena dagangan menjadi cepat kotor sehingga membuat pembeli kurang nyaman.


“Harapan kami ada kepedulian dari pihak-pihak terkait, minimal mau membersihkan tumpahan material truk molen di jalan, apalagi di musim kemarau seperti sekarang,” ujarnya.


Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Tarman. Ia menilai ceceran material beton yang mengering di permukaan jalan juga membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor.


“Di perempatan Tegal Danas banyak yang jatuh. Biasanya karena terpeleset atau saat menghindari ceceran beton,” katanya.


Selain itu, Tarman menyebut jumlah batching plant di sekitar wilayah Tegal Danas terus bertambah dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, peningkatan jumlah perusahaan tersebut turut memperparah lalu lintas truk molen di kawasan tersebut.


“Dulu cuma ada empat batching plant. Tiga di Kalimalang, perbatasan Cibatu dan Jayamukti, sama satu lagi di jalan arah Bugel Salam. Sekarang nambah lagi yang warna mobilnya hijau di Kalimalang. Itu masih baru sekitar satu atau dua bulanan,” ucapnya.


Warga berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas batching plant dan mewajibkan setiap perusahaan bertanggung jawab atas material yang tercecer di jalan. Mereka juga meminta dilakukan pembersihan jalan dan penyiraman secara berkala selama musim kemarau agar polusi debu dapat diminimalkan dan tidak terus mengganggu kesehatan maupun keselamatan masyarakat.